Rabu, 10 September 2014

Tahapan Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Dalam pembuatan sebuah hasil karya ilmiah membutuhkan beberapa tahapan penting yang harus dilalui oleh pembuatnya...berikut akan menjelaskan hal itu.


1. Tahap Persiapan

a. Pemilihan Tema
Langkah yang paling awal di dalam membuat suatu karya tulis ilmiah adalah menentukan atau memilih tema. Sebuah tema yang baik adalah tema yang paling disukai penulisnya. Sebaik apapun sebuah tema jika tidak dikuasai oleh penulisnya tidak akan mampu dikembangkan menjadi karya ilmiah yang baik. Oleh sebab itu, penulis karya ilmiah sebaiknya selalu menyadari bahwa tema yang terbaik yang akan diangkat menjadi karya tulis ilmiah haruslah tema yang paling disukainya.
Selain harus merupakan hal yang harus disukainya, tema juga harus menarik perhatian penulis sendiri dan jika mungkin pembaca. Tema yang menarik perhatian penulis akan memungkinkan penulis berusaha secara terus menerus mencari data-data untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Penulis akan didorong terus menerus agar dapat menyelesaikan tugas itu sebaik-baiknya. Sebaliknya suatu tema yang sama sekali tidak disenangi malahan akan menimbulkan kesalahan bila terdapat hambatan-hambatan. Penulis tidak akan berusaha sekuat tenaga akan menemukan data dan fakta untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi.
Tema yang baik juga haruslah sesuatu yang baru. Hal ini disebabkan bahwa sesuatu yang sudah lama dan telah dibahas oleh orang lain biasanya kurang menarik dan tidak kurang memiliki arti bagi pengembangan keilmuan. Namun demikian pengertian kata baru ini bukan berarti haruslah yang paling actual, melainkan tema yang baru bias saja diartikan sesuatu yang belum dibahas penulis lain sebelumnya. Tema yang baru ini tentu saja akan menarik pembaca atau paling tidak menambah konsep teoritis atau bahan pustaka untuk kepentingan penulisan yang akan datang.
Tema yang baik juga harus memenuhi syarat bermanfaat, artinya tema yang baik merupakan tema yang jika diangkat menjadi karya tulis ilmiah akan memberikan manfaat baik bag penulis, pembaca, ataupun pengembangan ilmu pengetahuan. Sebaik-baiknya tema dalam karya tulis ilmiah adalah tema yang bermanfaat. Hal ini sejalan dengan tujuan penulis karya tulis ilmiah sendiri yaitu untuk memecahkan suatu masalah.

b. Pembatasan Tema
Dengan membatasi tema, perhatian penulis juga lebih terpusat sehingga ia tetap bergulat dengan persoalan yang akan ditulisnya itu. Untuk menulis sesuatu yang khusus tidak perlu bahwa kita harus mengetahui semua fakta dan memiliki semua data pada saat tema itu terpilih. Tetapi sekurang-kurangnya secara umum sudah mengenal tema tadi melalui pembidangan dan aspek ilmiahnya. Pengetahuan dasar tadia akn dikembangkan lebih lanjut dengan hasil-hasil penelitian, observasi, dsb. Karena sudah mengenal prinsip dasarnya, penulis akan lebih mudah mengetahui aspek-aspek mana yang perlu diketahui data-datanya, aspek mana yang tidak perlu dimasukan dalam uraian.

c. Menentukan Maksud dan Tujuan Penulisan
Pembatasan tema belum dengan sendirinya membatasi pula maksud pengarang atau penulis. Oleh sebab itu, penulis harus menetapkan pula maksud untuk menggarap tema tadi. Pembatasan maksud merupakan sebuah rancangan menyeluruh yang memungkinkan penulis bergerak bebas dalam batas-batas tadi. Seperti halnya dalam pembatasan tema, pembatasan maksud juga akan menentukan bahan mana yang diperlukan, serta cara mana yang paling baik bagi penyusunan karya tulis ilmiah itu.
Walupun tema yang dipilih sama, tetapi karena maksudnya berlainan, karya tulis yang dihasilkan juga berlainan. Akibat selanjutnya adalah penggarapan dan materi-materinya juga bisa berlainan.
Bila tema persoalan sudah ditetapkan, serta maksud mengapa tema itu di uraikan sudah diketahui, langkah berikutnya adalah membuat sebuah perumusan mengenai masalah dan tujuan yang akan dicapai dengan tema tadi. Agar lebih menonjol apa yang akan ditulis, maka perumusan itu selalu ditulis pada awal kerangka karya tulis ilmiah yang merupakan perincian dari perumusan itu. Perumusan itu tidak lain dari tema karya tulis ilmiah itu. Perumusan itu dapat berbentuk satu kalimat, sebuah alinea, atau rangkaian dari alinea-alinea.
Langakh berikutnya adalah menentukan tujuan penulisan. Kegiatan ini penting karena akan memberikan warna suatu karya ilmiah dan memberikan arah suatu karya tulis ilmiah tersebut. Tujuan penulisan biasanya berkaitan erat dengan jenis karya ilmiah yang akan ditulis. Tujuan yang dimaksud misalnya (1) menjelaskan sesuatu kepada pembaca sehingga pembaca mengetahuinya, (2) meyakinkan pembaca sehingga pembaca paham dan meyakininya, (3) mempengaruhi pembaca dalam pendirian atau pendapatnya terhadap sesuatu hal.

d.Menyusun Outline
Outline karya tulis ilmiah adalah suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karya tulis ilmiah yang akan digarap. Jarang terdapat orang-orang yang langsung menuangkan isi pikirannya sekaligus secara teratur, terperinci dan sempurna diatas kertas. yang setiap kali dapat mengalami perbaikan dan penyempurnaan hingga dicapai bentuk yang lebih sempurna. Untuk membuat perencanaan semacam itu diperlukan sebuah metode yang teratur, sehingga pada waktu menyusun bagian-bagian dari tema yang akan digarap itu dapat dilihat hubungan yang jelas antara satu bagian dengan bagian yang lain, bagian mana yang sudah baik dan bagian mana yang masih memerlukan penyempurnaan. Metode yang biasa dipakai untuk maksud tersebut disebut outline.
Sebuah outline mengandung rencana kerja, memuat ketentuan-ketentuan pokok bagaimana suatu tema harus diperinci dan dikembangkan. Sebuah outline karya tulis ilmiah tidak boleh diperlakukan sebagai suatu pedoman yang kaku, tetapi selalu dapat mengalami perubahan dan perbaikan untuk mencapai suatu bentuk yang semakin lebih sempurna.

Outline karya tulis ilmiah dapat membantu penulis dalam hal-hal berikut:

  • Untuk menyusun karya tulis ilmiah secara teratur.
  • Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda.
  • Menghindari penggarapan sebuah tema sampai dua kali atau lebih.
  • Memudahkan penulis untuk mencari materi pembantu.


Langkah-langkah sebagai tuntunan yang harus diikuti adalah sebagai berikut:
1) Rumusan tema yang jelas berdasarkan suatu tema dan tujuan yang akan dicapai melalui tema tadi. Tema yang dirumuskan untuk kepentingan suatu outline karya tulis ilmiah haruslah berbentuk tesis atau pengungkapan maksud.
2) Mengadakan inventarisasi tema-tema bawahan yang dianggap merupakan perincian dari tesis atau pengungkapan maksud tadi.
3) Penulis berusaha mengadakan evaluasi semua tema yang telah tercatat pada langkah kedua diatas.
4) Untuk mendapatkan sebuah outline karya tulis ilmiah yang sangat terperinci maka langkah kedua dan ketiga dikerjakan berulang-ulang untuk menyusun tema-tema yang lebih rendah tingkatnya.
Langkah terakhir yaitu menentukan sebuah pola susunan yang paling cocok untuk mengurutkan semua perincian dari tesis atau pengungkapan maksud sebagai yang telah diperoleh dengan mempergunakan semua langkah diatas. Dengan pola susunan tersebut semua perincian akan disusun kembali sehingga akan diperoleh sebuah outline karya tulis ilmiah yang baik.



2. Tahap Pengumpulan Data
Pada tahapan ini di lakukan serangkaian kegiatan meliputi penyusunan-penyusunan instrument, uji coba instrument, pengumpulan data. Tahap keduaini harus mampu meghasilkan alat pengumpul data yang valid dan reliable serta pengumpulan data yang benar-benar representative dan proporsioal. Dengan demikian, penentuan metode dan teknik penelitian harus benar-benar sejalan dengan masalah yang akan di bahas dan di selesaikan.
Langkah berikutnya adalah mengumpulkan bahan-bahan yang akan di jadikan data untuk memperkaya penulisan. Tulisan yang dipersiapkan terlebih dahulu akan lebih baik di bandingkan dengan tulisan yang bertolak dari pengetahuan sendiri. Berbagai cara biasa di tempuh untuk mengumpulkan bahan tulisan, diantaranya: studi pustaka atau membaca berbagai buku (Sumber) yang berhubungan dengan bahan yang akan ditulis, melakukan penelitian, yang dipersiapkan secara sistematis, melakukan wawancara dengan narasumber yang layak, dan menyebarkan angket isian.

3. Tahap Analisis Data
Pada tahap ini berbagai data yang telah dikumpulkan harus dianalisis secara sesama. Teknik analisis data dapat berupa teknik kualitatif maupun cara kuantitatif. Teknik kualitatif dapat di lakukan dengan cara (1) identifikasi data, (2) klasifikasi data, (3) analisis data, dan (4) interpretasi data dan pembuatan simpulan untuk teknik kuantitatif dapat di lakukan dengan menggunakan teknik uji statistik.

4. Tahap Penyusunan Draf Laporan
Kerangka tulisan yang di buat sebelumnya pada tahap ini mulai dikembangkan. Pengembangan ini dilakukan dengan menyajikan hasil studi pustaka, hasil pengmpulan data, hasil analisis, dan simpulan yang di peroleh.

5. Tahap Revising dan Editing
Draf karya tulis ilmiah yang telah di buat sebaiknya diedit dan direvisi (di sunting) untuk memperbaiki isinya. Hal ini perlu dilakukan sebab draf yang pertama kali dibuat bisa saja masih mengandung berbagai kesalahan/kekurangermatan sehingga perlu diperbaiki.

6. Tahap Pelaporan
Tahap ini merupakan tahap final yang harus ditempuh penulis karya ilmiah. Pada tahap ini karya tulis yang telah di susunya harus mampu dilaporkan sekaligus dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Tahapan penyusunan karya tulis ilmiah tersebut harus benar-benar dijalani secara cermat sehingga karya tulis yang dibuat benar-benar karya tulis ilmiah yang baik dan dapat di pertamggung jawabkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar